02 December 2013

Mulyana W. Kusumah Tutup Usia

Mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mulyana W. Kusumah tutup usia, Minggu (1/12) malam.

Almarhum meninggal dunia pada usia 65 tahun di Rumah Sakit Dharmais Jakarta sekitar pukul 21.30. Salah satu pendiri KIPP (Komisi Independen Pemantau Pemilu) itu sempat dirawat karena penyakit komplikasi.


Sejumlah kerabat dan tokoh turut menyampaikan belasungkawa. Mantan anggota KPU Anas Urbaningrum salah satunya. "Semoga damai dan dimuliakan di sisi-Nya," kata Anas.

Anas memang memiliki kedekatan almarhum. Dia bersama-sama Mulyana pernah menjadi anggota Tim 11 yang bertugas menyeleksi parpol peserta Pemilu 2004. "Kami kemudian bersama-sama lagi sebagai anggota KPU ketika Pemilu 2004, most complicated election pertama di Indonesia," imbuh Anas.


Mulyana lahir di Bogor, 23 November 1948. Selain dikenal tokoh KIPP, yang bersangkutan juga adalah seorang akademisi di Universitas Indonesia (UI). Almarhum juga pernah aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.

Dia sempat memiliki sejarah kelam. Yaitu, ketika Mulyana divonis Pengadilan Tipikor Jakarta dengan hukuman penjara selama 2 tahun 7 bulan dan denda Rp 50 juta pada 12 September 2005. Dia dianggap terbukti menyuap auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Mulyana juga dihukum selama 15 bulan karena melakukan korupsi pengadaan kotak suara pada pemilihan umum 2004.

Pada 18 Agustus 2007, Mulyana akhirnya dapat kembali menghirup udara segar setelah dibebaskan dari rumah tahanan negara (rutan) Salemba, Jakarta.

sumber
jpnn.com

01 December 2013

Toilet Tertua di Dunia

Para arkeolog menemukan sebuah lokasi yang menjadi 'WC umum' pada masa kehidupan dinosaurus dalam penggalian di Argentina.

Penemuan lokasi ini memecahkan rekor toilet tertua sebelumnya yang berusia 220 juta tahun.

Hal itu terdeteksi dari keberadaan ribuan fosil kotoran hewan yang mirip dengan badak besar pemakan tumbuh-tumbuhan juga ditemukan di lokasi yang sama. "Tidak diragukan lagi siapa pelakunya," kata Dr Lucas Fiorelli, dari Crilar-Conicet, yang menemukan kotoran tersebut seperti dilansir BBC (28/11).


Situs yang berusia sekitar 240 juta tahun ini merupakan "WC umum" tertua di dunia dan merupakan bukti pertama bahwa hewan reptil purba berbagi tempat untuk membuang kotoran mereka. Fosil kotoran yang terbesar dengan ukuran 40 cm dan berat beberapa kilogram ditemukan pada sejumlah lokasi di Formasi Chanares, Provinsi La Rioja.

Bentuknya mirip sosis, dan lainnya berbentuk oval, dengan warna yang berbeda-beda dari abu-abu keputihan sampai coklat tua-ungu tua. Kotoran hewan tersebut juga mengandung petunjuk mengenai pola makanan makhluk pra sejarah tersebut, jenis penyakit dan tumbuh-tumbuhan yang hidup kala itu.

Gajah, Kijang bertanduk dan kuda merupakan hewan modern yang buang air besar di lokasi yang disepakati secara sosial untuk menandai wilayah serta mengurangi penyebaran parasit. "Hanya satu spesies yang dapat memproduksi kotoran besar dan kami menemukan tulang mereka di situs tersebut," lanjutnya.

Pelakunya adalah Dinodontosaurus, pemakan tumbuh-tumbuhan yang memiliki panjang 2,4 meter, mirip dengan badak modern. Hewan ini adalah dicynodonts mamalia besar menyerupai binatang reptil yang biasa hidup pada periode Triassic, ketika dinosaurus pertama muncul.

Fakta bahwa mereka berbagi 'jamban' menunjukkan bahwa mereka hidup berkelompok, yang memiliki alasan untuk membuang kotoran secara strategis, kata Dr Fiorelli. "Pertama-tama, tindakan tersebut penting untuk menghindari parasit," timpalnya.

"Tetapi ini juga peringatan bagi predator. Dengan meninggalkan kotoran yang besar, berarti merupakan kelompok yang besar," sambungnya.

Predator bagi kelompok ini adalah Luperosuchus, mirip buaya pemakan daging yang panjangnya mencapai 8 meter.

jpnn.com

Survey Tingkat Kepuasan Jokowi Ahok

Ada penelitian menarik mengenai tingkat kepuasan warga Jakarta terhadap kinerja Gubernur-Wakil Gubernur Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama.

Mayoritas warga ternyata belum puas dengan program pengurai kemacetan dan pembenahan angkutan umum yang dijalankan pasangan Jokowi-Ahok, sapaan Joko Widodo - Basuki setelah setahun lebih memimpin DKI.


Hal itu terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh Paramadina Public Policy Institute (PPPI) dan Pusat Data Bersatu (PDB). Jumat (29/11), dua lembaga riset itu memaparkan hasil penelitiannya di kampus Pascasarjana Universitas Paramadina, Jakarta.

Penelitian dengan metode telepolling itu dilakukan pada 11-13 Oktober dengan melibatkan 500 responden yang dipilih secara acak. Sebanyak 61,5 persen responden menyatakan tidak puas dengan kinerja Jokowi-Ahok dalam mengatasi problem kemacetan di Jakarta. Hanya 33 persen yang mengaku puas, dan 4,6 persen menjawab tidak tahu. "Jokowi - Ahok dinilai belum maksimal mengatasi kemacetan lalu lintas," ujar Direktur PPPI Wijayanto Samirin.

Ketidakpuasan terhadap pem­benahan angkutan umum juga tergolong tinggi, yakni 50,8 persen. Sisanya, yakni 43,1 persen menyatakan puas, dan 6,1 persen menjawab tidak tahu. Dengan demikian, problem kemacetan dan angkutan umum menjadi PR (pekerjaan rumah) besar yang harus segera diselesaikan oleh Jokowi-Ahok.

Menurut dia, warga Jakarta mendambakan transportasi umum yang nyaman, aman, dan cepat. Mengenai besaran tarif, menurut dia, sebenarnya tidak terlalu dipersoalkan. "Hal itu menjadi persoalan di tengah keinginan Jokowi-Ahok untuk meminta warga beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum," jelas dia.

Meski demikian, ada temuan unik dari penelitian tersebut. Kendati mayoritas mengaku belum puas, ternyata Jokowi-Ahok tetap disukai publik. Indikasinya, saat ditanya soal siapa yang bertanggung jawab terhadap kemacetan dan angkutan umum, sebanyak 47,5 persen responden tidak menyalahkan Jokowi-Ahok. Mereka menyatakan bahwa kemacetan dan angkutan umum adalah tanggung jawab semua pihak.

Baru di urutan kedua, atau 22,0 persen menjawab Jokowi - Ahok, lalu urutan ketiga memilih dinas perhubungan 9,0 persen, ma­syarakat, 5,5 persen, presiden 4,0 persen, kepolisian 2,0 persen, pemerintah pusat dan daerah 1,5 persen, pengguna jalan 1,0 persen, dan lain-lain 1,0 persen. "Kalau gubernur yang lalu, saat masyarakat ditanya siapa yang harus bertanggungjawab, mereka menjawab nomor satu gubernur," ungkap dia.

Di tempat terpisah, Jokowi mengatakan tidak terlalu mempersoalkan hasil survei itu. Yang terpenting bagi dia hanya konsen­trasi bekerja menuntaskan segala persoalan Jakarta. Menurut kader PDIP itu, kemacetan di Jakarta disebabkan oleh pertambahan jumlah kendaraan yang semakin membengkak. Menurut data pemprov, pertambahan kendaraan di Jakarta sejak Januari hingga Oktober tahun ini mencapai 1.218.000 unit.

"Bayangin, tambahan mobil dan motor baru. Makanya, kita akan meninggikan pajak progresif untuk mengantisipasi semakin melonjaknya jumlah kendaraan. Nah, tugas pemerintah pusat mestinya membatasi (volume kendaraan)," tegas dia.

sumber:
jpnn.com

30 November 2013

15 Pelajar dan 3 Mahasiswa Positif Terinfeksi HIV/AIDS

Persebaran HIV/AIDS di Jember benar-benar sudah sangat mengkhawatirkan.

Bukan hanya jumlahnya yang terus melonjak tajam.

Persebarannya juga meluas dan sudah menembus berbagai kalangan. Termasuk kalangan mahasiswa dan pelajar.


Berdasar catatan Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Jember, hingga Oktober 2013 sudah ada 15 pelajar dan 3 mahasiswa yang positif terinfeksi HIV/AIDS.

Angka mengejutkan itu disampaikan Ketua Pelaksana Harian BNK Jember Kompol Teduh T.S.W. dalam sosialisasi pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba di aula SMA Negeri 2 Jember kemarin (29/11).

Di hadapan ratusan siswa SMA Negeri 2 Jember, Kompol Teduh menjelaskan bahaya penggunaan narkoba dan seks bebas. Salah satunya di kalangan mahasiswa dan pelajar. "Kini peredaran narkoba sudah merambah kalangan pelajar dan mahasiswa. Bahkan sudah menembus pelajar tingkat SLTP," ungkapnya.

Mantan Kabag Ops Polres Jember itu menambahkan, mulai 2004 sampai Oktober tahun ini sudah ada 15 pelajar dan 3 mahasiswa yang terinfeksi HIV/AIDS. Dari jumlah itu, pada 2012 dan 2013 masing-masing ditemukan lima pelajar. Pada 2007, 2008, dan 2010 masing-masing ditemukan satu pelajar yang mengidap HIV/AIDS. Kemudian, pada 2006 ada dua dan 2009 ada tiga pelajar yang diketahui telah tertular penyakit mematikan tersebut.

Pihaknya telah menerima data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember. "Itu data dari dinkes mulai 2004 sampai Oktober 2013," ujar perwira polisi dengan satu melati di pundak tersebut. Total, mulai 2004 sampai 2013 pengidap HIV/AIDS di Jember sudah mencapai 1.053 orang.

Dari jumlah itu, dilihat dari pekerjaannya, pengidap yang paling banyak adalah ibu rumah tangga dengan 256 orang, wiraswasta 162, PSK 159, lainnya 136, dan tidak diketahui jenis pekerjaannya 80. Kemudian buruh kasar 63, petani/nelayan/peternak 43, karyawan 41, anggota TNI/Polri 40, dan sopir 20 orang. Lalu anak pelajar/mahasiswa 18, narapidana 16, tenaga profesional nonmedis 8, seniman/aktor/perajin 5, tenaga profesional mesin 2, PNS 2, manajer 1, dan pelaut 1.

Penularan HIV/AIDS kebanyakan terjadi melalui hubungan seks bebas dan penggunaan jarum suntik bagi pengguna narkoba. "Makanya, harus jauhi seks bebas dan penggunaan narkoba," tutur Teduh. Pihak BNK sendiri kini gencar melakukan sosialisasi pencegahan di sekolah-sekolah agar siswa tidak terjerumus dalam penggunaan narkoba dan seks bebas.

Menurut Teduh, penyalahgunaan narkoba seperti ganja, sabu-sabu, ekstasi, morfin, dan heroin sangat merugikan. Antara lain, barang-barang haram itu bisa merusak otak, ginjal, jantung, hati, peredaran darah, mata, dan gigi. "Juga bisa mengakibatkan kehilangan konsentrasi atau gangguan berpikir, menjadi bodoh, kehilangan nafsu makan. Kemudian kehilangan ingatan dalam waktu lama atau abnormal, mudah cemas, marah, takut, gembira, semangat, rileks, mengantuk, tertular HIV/AIDS, depresi, stimulan, sampai halusinasi," paparnya.

Untuk itu, harus ada pencegahan penyalahgunaan narkoba. Antara lain dengan pemberian informasi tentang masalah narkoba dan pengadaan kebijakan tentang narkoba. Lantas mengajar dan mendukung para guru melakukan strategi-strategi pencegahan. Lalu mendidik siswa mengembangkan keterampilan untuk menolak tawaran teman sebaya dan meningkatkan peran pengawas.

sumber:
jpnn.com